Akhir³ ini aku membaca artikel yang menyapa begitu keras dan tajam. Bisa menjadi pukulan berat dan tegoran yang menyakitkan untuk kita tapi bisa juga menjadi alat untuk bercermin kepada diri kita sendiri.
” Aku terbuat dari debu oleh Allah Bapa……………..dan kamu juga!! “
Kalimat itu sepintas bisa melecehkan seseorang yang selama ini mungkin merasa cukup berarti, hebat, pintar, bijaksana, kaya dan segala galanya…tiba² merasa tidak berarti, merasa semuanya itu tidak apa apa dibanding yang lain, karena sama sama tercipta dari DEBU !
Sungguh luar biasa rencana Allah saat itu dimana Dia memilih debu untuk menciptakan manusia itu. Kenapa juga Dia tidak menciptakan manusia dari Daun, emas, kayu, atau dari angin??
AKu terdiam dan membayangkan abu. Ku lihat abu yang ada disekitarku..ku goreskan pake jariku kemudian langsung ku bersihkan pake tissue , yang dalam arti, aku tidak mau berlama lama kena abu itu..jorok. Abu berarti jorok…dan memang dia adalah simbol ketidakbersihan. Kemudian aku teringat dengan alergie ku. Kalau aku membersihkan sesuatu yang cukup berabu, pasti aku akan bersin² dan tidak jarang membuat aku menjadi sakit batuk. Yang dalam arti abu adalah Penyebab Penyakit.
Saat ini, detik ini aku tidak menemukan sesuatu yang indah dari debu. Mungkin saja klu debu berkumpul begitu banyak dan menjadi tumpukan, mungkin saja bisa ditanam tumbuhan yang bisa tumbuh khusus di debu..mungkin saja bukan? Aku pernah lihat kaca mobil yang cukup berdebu, mungkin ada orang yang melukis bunga disana dgn jari²nya dan hasilnya sangat bagus…dalam arti, Debu jg bisa digunakan untuk keperluan seni.
Jadi mengapa Allah Bapa menciptakan kita dari debu yang padaa umumnya tidak berarti itu?
Ah pertanyaan yang tidak asing lagi bagi kita dan semua yang mengenal Allah Pencitpa sudah tau jawabnya. Karena memang kita dulu memang DEBU..terbuat dari Debu. Kita tidak siapa siapa, tidak berarti, hanyalah DEBU, yang penuh dosa, dan yg butuh pelukis yang bisa membuat Debu itu menjadi seni, menjadi sesuatu yang indah..dan itu adalah Allah Bapa…Pelukis yang tiada taranya. Dia menggoreskan Debu(kita) dijariNya, tapi Dia tidak membuang, Dia melukiskan dan membentukNya menjadi suatu yang Nyata yaitu kita. Dan itulah yang membuat kita dari Debu yang tidak berarti menjadi debu yang sungguh² berarti dan berharga bahkan menjadi Debu yang menjadi berkat terhadap yang lain.
Tercipta dari Debu menjadi suatu cermin buatku, bahwa aku adalah sesuatu yang dulunya tidak berharga dan sekarang menjadi sesuatu yang cukup berharga, karena itu perlu disukuri dan bukan untuk disombongkan.
Kamu dan aku adalah sebuah lukisan dari Allah Pencipta dari bahan Debu, tidak lebih dan tidak kurang kita adalah sama , karena itu bersukurlah!!